Jumat, 10 Mei 2013

Intropeksi diri

ngeliat dan mendengar manusia mati kok udah biasa.
Tapi saat melihat orang yang kita cintai tertawa lepas,bahagia,
Anak, istri malah keingetan.
Anak dulu terlahir,tengkurep,merangkak,jalan,dan sekarang bisa sekolah dan makan bareng.
Detik demi detik,hari berjalan dan dilewati bersama,baru terasa bahwa waktu benar2 berjalan.
Diri ini kelak menjadi tua,atau mungkin sebelum tua badan telah menjadi seonggok bangkai yang bernama mayat.
Malah tidak memikirkan apa belal ku nanti.yang terpikir hanya sudahkah ku berikan yang terbaik tuk keluarga?sudahkah ku siapkan bekal tuk anakku dewasa kelak agar bisa sejajar dg yg lain.dan tidak terhina.?sudahkan istri mampu mandiri dalam segala hal, sehingga tak perlu mencari pengganti saat aku pergi.?
Dan jawabanya semuanya belum.
Lalu bagaimana jika tuhan memintaku hari ini juga untuk kembali.?
Jawabanya satu.
Mungkin masih ada waktu sedetik lagi,maka bangunkan badan,dan lakukan segala hal diatas yang belum dilakukan,mungkin waktu sedetik tak cukup,namun paling tidak jika ajal tetap menjemput,aku tiada disaat berjuang dalam segala hal kebaikan,mati dalam syahid.
Oke bangun dari duduk,dari rebahan,dari tiduran,dari mimpi,dari acara OL,dan berbuat kebaikan.
Itu artinya udahan dulu OLnya.
Ya allah ampuni segala dosa hamba,dosa orang tua hamba,dosa anak dan istri hamba,dan dosa handai taulan,kawan,dan kerabat.
Mohon rhidomu untuk setiap laku yang ku perbuat.
Dan jangan pernah KAU putuskan tali cintaku pada MU.
Aamiin

Bagaimana menjadi seorang kepala rumah tangga

ilmu dari sang ayah

Ilmu ini aku dapatkan dikala aku masih kecil. Kala itu hubungan ayah dan bunda tidaklah harmonis, namun dipaksakan untuk tetap berdiri pada mahligai perkawinan dengan alasan usia yang sudah tua.
Jika menghitung hitung amalan yang dilakukan ayah, mungkin bisa dihitung. Ayah yang sejak lama telah mentelantarkan keluarga, bekerja namun hasilnya tidak pernah diberikan kepada bunda. Sampai bunda dengan 3 anaknya terpaksa membanting tulang, guna mencukupi kebutuhan keluarga, kurasakan betul beratnya usaha untuk tetap hidup tanpa ada nafkah dari ayah, karena aku rasakan sendiri, sejak umur 7 tahun, aku sudah harus membantu bunda mencari uang.
Dari pengalaman ini kutemui ilmu, "Bahwasanya menjadi seorang lelaki dan utamanya menjadi kepala rumah tangga harus bertanggung jawab, dengan minimal memberi nafkah lahir."